PENDEKATAN KEPEMIMPINAN
Mata Kuliah : Kepemimpinan
Manajerial
Dosen Pengampu : Drs.Maluri,SE.MM
Kelompok VIII
Materi IV
Disusun oleh
1. Agung Nugroho ( 2010-11-153 )
2. Rina Afriyani ( 2010-11-156 )
3. Farchah ( 2010-11-157 )
4. Andriyani Octavia S ( 2010-11-160
)
5. Budi Utomo ( 2010-11-163 )
FAKULTAS EKONOMI PROGDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
TAHUN AJARAN 2012 / 2013
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Seiring
perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan
dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentang
memimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang
kepemimpinan dengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Kepemimpinan
tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan
sesuatu secara berencana dan dapat melatih calon-calon pemimpin.
Orang yang ditunjuk sebagai pemimpin dari
kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga
ada aturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus
lahir dari keturunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai
pengaruh dan lain-lain. Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki
syarat-syarat yang tidak ringan, karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.
Kepemimpinan atau leadership
merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip
dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia
(Moejiono, 2002). Ada banyak definisi kepemimpinan yang
dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing,
definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
PERUMUSAN MASALAH
Pendekatan Kepemimpinan
1.
Pendekatan Ciri
2.
Perilaku
3.
Situasional
4.
Kekuatan Pengaruh
5.
Terpadu
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam
perkembangannya, studi tentang kepemimpinan berkembang sejalan dengan kemajuan
zaman yang dikategorikan Yukl (2005:12) menjadi lima pendekatan
yaitu :
(1) pendekatan cirri
(2) pendekatan perilaku
(3) pendekatan kekuatan – pengaruh
(4) pendekaan situasional
(5) pendekatan integrative
Teori
Genetik (Genetic Theory).
Penjelasan
kepemimpinan yang paling lama adalah teori kepemimpinan “genetic” dengan
ungkapan yang sangat populer waktu itu yakni “a leader is born, not made”.
Seorang dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu
belajar lagi. Sifat-sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dari
orang tuanya.
Teori
Sifat (Trait Theory).
Sesuai
dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan
sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat
yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social.
Penganut teori ini yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka
seseorang akan memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi
pemimpin yang efektif. Karakter yang harus dimiliki oleh seseorang menurut Judith
R. Gordon mencakup kemampuan yang istimewa dalam (1) Kemampuan Intelektual (2)
Kematangan Pribadi (3) Pendidikan (4) Status Sosial dan Ekonomi (5) “Human
Relations” (6) Motivasi Intrinsik dan (7) Dorongan untuk maju (achievement
drive).
Teori
Perilaku (The Behavioral Theory).
Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas
kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II
sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti
“behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan
efektivitas kepemimpinan. Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini
beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku
seseorang untuk memimpin secara efektif.
Situasional
Leadership.
Pengembangan
teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan teori-teori sebelumnya
dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif. Dalam “situational
leadership” pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya
kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat. Seorang pemimpin yang
efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan menyesuaikan
kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Empat dimensi situasi yakni
kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter
pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap
efektivitas kepemimpinan seorang
Transformational
Leadership.
Pemikiran terakhir mengenai kepemimpinan yang
efektif disampaikan oleh sekelompok ahli yang mencoba “menghidupkan” kembali
teori “trait” atau sifat-sifat utama yang dimiliki seseorang agar dia bisa
menjadi pemimpin. Robert House menyampaikan teori kepemimpinan dengan
menyarankan bahwa kepemimpinan yang efektif mempergunakan dominasi, memiliki
keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas yang tinggi untuk
meningkatkan kadar kharismatiknya (Ivancevich, dkk, 2008:213)
Dengan
mengandalkan kharisma, seorang pemimpin yang “transformational” selalu
menantang bawahannya untuk melahirkan karya-karya yang istimewa. Langkah yang
dilaksanakan pada umumnya adalah dengan membicarakan dengan pengikutnya,
bagaimana sangat pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya
mereka sebagai anggota kelompok dan bagaimana istimewanya kelompok sehingga
dapat menghasilkan karya yang inovatif serta luar biasa.
Menurut pencetus
teori ini, pemimpin “transformational” adalah sangat efektif karena
memadukan dua teori yakni teori “behavioral” dan “situational” dengan kelebihan
masing-masing. Atau, memadukan pola perilaku yang berorientasi pada manusia
atau pada produksi (employee or production-oriented) dengan penelaahan situasi
ditambah dengan kekuatan kharismatik yang dimilikinya. Tipe pemimpin
transformational ini sesuai untuk organisasi yang dinamis, yang mementingkan
perubahan dan inovasi serta bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan lain
dalam ruang lingkup internasional. Syarat utama keberhasilannya adalah adanya
seorang pemimpin yang memiliki kharisma. (Ivancevich, 2008:214).
BAB III
KESIMPULAN
Kepemimpinan atau leadership
merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip
dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia
(Moejiono, 2002). Ada banyak definisi kepemimpinan yang
dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing,
definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.
Dengan
mengandalkan kharisma, seorang pemimpin yang “transformational” selalu
menantang bawahannya untuk melahirkan karya-karya yang istimewa. Langkah yang
dilaksanakan pada umumnya adalah dengan membicarakan dengan pengikutnya,
bagaimana sangat pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya
mereka sebagai anggota kelompok dan bagaimana istimewanya kelompok sehingga
dapat menghasilkan karya yang inovatif serta luar biasa. Tipe pemimpin
transformational ini sesuai untuk organisasi yang dinamis, yang mementingkan
perubahan dan inovasi serta bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan lain
dalam ruang lingkup internasional.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Ivancevich,
John, M, Konopaske, & Matteson. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi.
Jakarta : Erlangga.
·
Yukl,
Gary. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Edisi ke 5. Jakarta : Indeks
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking